Fanfiction | Tes Mental | Hany Dyah
Pada suatu malam di
sebuah aula aku dan teman teman mengikuti sebuah tes mental yang akan di adakan
di sebuah makam, untuk mencari sebuah sabuk. Nah, saat itu aku bersama ke teman-temanku
yang beranggota 15 orang mengikuti tes mental. Kami berkumpul di sebuah aula SD
dekat makam kita semua berkumpul di aula sambil menunggu kakak senior
menyembunyikan sabuk di dalam makam.
Setelah kakak senior
datang tepat pada jam 23.30 wib salah satu kakak seniorku membagi nomor urut
kami untuk masuk ke makam secara bergiliran, Dan ternyata hal yang sangat buruk
terjadi. aku mendapatkan nomor urut terakhir dari ke 15 temanku dan akhirnya
dengan wajah cemas dan sedikit takut aku menerimanya. sebelum berangkat kami
berdo’a bersama dan setelah berdo’a satu per satu teman temanku mulai beranjak
mengambil sabuk di dalam makam. Setelah mereka semua berhasil dan kembali ke
aula tiba saatnya giliranku mengambil sabuk, dengan hati yang cemas dan
gemeteran aku menarik nafas panjang, Aku mulai beranjak dari aula menuju ke
arah makam.
Setelah aku berjalan kurang lebih 15
menit akhirnya aku tiba di makam tanpa ada setitik cahaya. Aku terus berjalan
menuju makam yang gelap dan hening tanpa suara seorang pun di dalamnya. Dengan
penuh percaya diri aku tiba di makam dan mulai mencari sabuk itu. Pertama aku
mencari di pintu masuk makam, akan tetapi aku tak menemukannya. Lalu aku
berjalan sambil mencari di sudut sudut makam dan di bawah batu nisan makam-makam
tersebut. Namun sudah sekian lama aku mecarinya. Kira-kira sekitar 1 jam lebih
aku mencari tapi aku tak menemukan juga.
Beberapa menit kemudian
salah satu senior ku datang ke makam menghampiri aku dan bertanya ”kenapa kok
lama” aku pun menjawab ”maaf kak, aku belum menemukan nya dari tadi aku sudah
mencari sampai ke ujung-ujung makam akan tetapi aku belum menemukan nya juga ”jawab
ku dengan wajah yang lelah dan penuh bercucuran kringat di muka.”
Kakak senior mengajakku kembali ke aula
dengan mengendarai sepeda motornya. Aku pun ikut beranjak dan menghentikan
pencarianku yang tidak mendapatkan hasil. Sampai di aula senior ku yang paling
tua memanggil aku dan teman temanku. Akhir
nya kami berkumpul. melihat teman-teman ku yang sudah mengenakan sabuk dengan
gagah. Aku merasa kecil hati dan aku menundukan kepalaku. Lalu kakak senior tersenyum,
dan’’berkata kenapa kamu menunduk?” Tanya
senior kepadaku. Aku menjawab “tidak kenapa kenapa kak” (jawab ku dengan wajah yang lesu) senior kembali berkata kepada ku
Senior :(
senior dengan wajah yang serius) ”dimana sabukmu?”
Aku :”Aku
tidak menemukanya.”
Senior :”teman
teman mu bisa mendapatkan sabuk di makam dengan cepat atau tanpa hambatan? Lalu
kenapa kamu tidak?”
Aku :(dengan
muka lesu) “entahlah tapi aku sudah berusaha semaksimal, Tapi aku tak menemukan
sabuk itu.”
Senior :(tertawa
Sambil menggodaku) “Mungkin karna kamu nakal dan sering berbohong?”
Aku: “maaf kak tapi aku gak nakal dan
aku tidak pernah berbohong.”
(Senior pun tertawa). Sambil memberikan
sabuk milikku. Dan ternyata ia telah menyembunyikan sabukku di aula. Aku pun
mengambilnya dan tersenyum kesal, lalu kakak senior berkata “selamat, kamu
berhasil menjadi anggota yang pembrani dalam tes mental ini di bandingkan teman-temanmu.”
aku hanya membalasnya dengan senyuman manis. Dan setelah itu kami semua mulai
berkemas dan bersiap-siap untuk pulang kerumah masing masing.



Komentar