Fanfiction | Sepi Tanpa Mereka | Nadia Abibita
“SEPI TANPA MEREKA”
“Nad,bangun!”
ucap seorang temanku yang bernama Ani. Pas jam pelajaran olahraga tadi,aku tidak enak
badan. Dan sekarang aku masih duduk di bangku. “Udah mendingan Nad?” tanya Ani,
Mitha dan Bella, “ya agak-agak lah” sahutku dengan suara lemas. Tadi pagi, Aku
belum sempat makan, makannya pas jam pelajaran olahraga aku merasa tidak enak badan. “Coba saja tadi pagi
aku makan, pasti nggak gini jadinya.” Ucap ku dalam hati dengan kesal.
Jam pelajaran kedua pun dimulai. Aku menggambil buku di
dalam tas. Sekarang aku sudah mulai bisa belajar lagi. Hari ini tidak ada guru
yang mengajar, jadi aku memutuskan untuk membaca buku pelajaran. Aku menoleh ke
arah Ani dan Mitha, tak seperti biasanya mereka mau dengannya. Aku pun merasa dijauhi
sejak itu. Sedangkan Bella tetap menemaniku.
Bel istirahat berbunyi, semua anak
berhamburan keluar. Tetapi aku memilih untuk diam di kelas. Dia menghampiriku, yaitu Nia
dan Ina. “Nadia,
kamu nggak ke kantin.” tanya Nia, aku hanya menggelengkan kepalaku. Aku masih diam di bangku Nia,
sedangkan Ani, Mitha, dan Bella meninggalkanku. “Kenapa ya mereka? tiba-tiba mereka menjauhiku, aku merasa sepi tanpa
mereka hari ini.” Kata ku dalam hati. “Ani, Mitha, Bella!!” teriak ku dari bangku Nia.
Mereka hanya menoleh ke hadapan ku, mereka hanya tersenyum kecil saat itu. Hati
ku pun merasa sedih karena aku tiba-tiba ditinggalkan begitu saja oleh ketiga
sahabatku.
Bel pulang sudah berbunyi, anak-anak pada
sibuk merapikan buku pelajaran. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. “Hahahaha…” terdengar suara
tawaan dari selatan, mereka adalah Ani, Mitha dan Bella. Tak seperti biasanya,
mereka pulang bareng sama aku. Aku pun pulang sendirian dengan berjalan kaki.
Tak terasa, aku sudah sampai di rumah. Aku bergegas mengganti bajuku. “Hhhuuuhhh kenapa ya
mereka?” tanya ku pada diriku sendiri sambil memandang pemandangan di luar. Tiba-tiba ada
deringan hpku
berbunyi, ternyata ada pesan dari Ani. “Nadia, kami tadi di sekolah seperti itu
karena kami tidak ingin mengganggumu. Tapi kamu malah bermain bersama Nia, dan
Ina.” kata Ani lewat pesan, “Maafkan aku, aku hanya kesepian tanpa kalian!
makanya aku bermain bersama Nia dan Ina.” jawab ku dengan kesal. Aku mengakhiri pesan
singkat itu.
Esok harinya, lagi-lagi mereka tetap saja
seperti itu. Aku makin kesal dengan mereka. Aku memutuskan hari ini untuk
bermain bersama Nia dan Ina. Hari ini giliran ku, Ani, Mitha dan Bella piket. Aku
mengambil sapu di belakang kelasku. “Mitha! apa kabarmu?” tanya ku pada Mitha, “siapa kamu? aku nggak kenal! jangan sok
kenal ya!” ucap Mitha sombong. Mendengar ucapan dari Mitha, aku merasa terpukul
dengan kata salah satu sahabatku itu. Aku pun tetap menyapu kelasku sambil berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
Aku melihat sifat sahabatku beda dengan yang dulu.
Sejak Ani, Mitha dan Bella bermain terus dengan Mia dan Pina, aku merasa ada
yang beda dengan sahabatku. Mereka serasa terus menjauhiku setiap hari. Itu
menambah rasa galau ku semakin terasa. Untung ada teman yang mau bermain denganku yaitu, Nia dan Ina. Mereka
setia menemani ku setiap hari. “Ini Nad, permen buat kamu!” ucap Nia sambil memberikan permen itu
kepada ku, “wah.. terima kasih ya!” sahut ku sambil menerima permen itu.
Waktu sudah berlalu, waktunya pulang. Semua
anak nampak sibuk merapikan bukunya dan bergegas pulang. Aku pun keluar kelas,
tiba-tiba ada seseorang yang menginjak sepatuku dari belakang. Aku menoleh ke belakang, dan dia
adalah Mitha. “ooppsss… maaf!” ucap Mitha sambil tersenyum jahat. Karena aku kesal akan
perbuatannya, aku segera berlari.
Sampai di rumah, Aku mengganti baju dan
megerjakan PR. Sambil mengerjakan PR, aku berpikir bahwa sahabatku tidak peduli lagi
denganku, dan mereka mencoba untuk membullyku. Karena aku sering dibully di
sekolahan, aku tetap menerima dan belajar sabar untuk menghadapi semua cobaan
yang diberikan. Walau ditinggal sahabatku, aku masih mempunyai banyak teman,
dan bukan hanya mereka yang bisa menjadi teman ku. Dari itulah aku belajar
menjadi anak yang tegas, percaya diri dan sabar.
By : Nadia Abibita Romadhon
Komentar