Fanfiction | Memulai Sebuah Kemandiria | Sinta Ningsih
Hmm.. gimana yah ngerjain adek-adek kelas yang mukanya culun tapi nyebelin,
kepalanya bersisir rapi dengan muka
yang lugu, sok imut, baju sok dibuat rapi dan lain sebagainya.
*bayangkan
*bayangkan
Itulah yang aku alami dengan teman-teman angkatanku, apalagi pas mereka
baru menginjakkan kaki di SMP tempat aku dan teman-teman belajar ini. Mereka anak-anak kelas tujuh dilatih menjadi siswa yang
mandiri dengan cara diikut sertakan dalam Persami (perkemahan sabtu minggu), pada saat hari pertama dimulai acara
anak-anak
baru disuruh bawa kayu bakar, obor, minyak tanah, dan perlengkapan yang lain.
Sehabis anak-anak sampai di sekolahan mereka disuruh untuk mendaftarkan regu
mereka masing-masing ada yang namanya
regu kancil, sakura, ataupun bunga teratai dan masih
banyak lagi. Kalian bisa bayangin kan begitu ramainnya tempat pendaftaran tim
regu mereka masing-masing, sembari teman-teman Dewan penggalang ada yang mencatat tim tim regu Dewan
penggalang yang lain ada yang mendirikan tenda sebagai simbolis, mengkordinasi
ruangan buat ditempati mereka, ada yang latihan buat apel pembukaan persami. Jam setengah
dua tepat anak-anak kami kumpulkan di halaman upacara SMP, dengan panas matahari
yang menyengat ditambah semangatnya anak-anak kelas tujuh kami bariskan. Kira-kira ada tiga Pembina
apel untuk membariskan mereka ditambah Pratama (pemimpin barisan), Semua sudah
tertata rapi di halaman namun Kakak Pembina belum datang. Sembari menunggu kakak Pembina datang kami
adakan suatu permainan kecil yaitu tepuk pramuka untuk menambah semangat adek-adek kelas tujuh, dan tak lama kemudian akhirnya kakak Pembina sudah
datang. Barisan kembali ditata sang Pratama memasuki tempat apel dan kakak
Pembina Memberikan arahan bagi kami, dan ada sebuah peraturan yaitu bagi Dewan Penggalang tidak boleh memarahi adek-adek kelas tujuh, tidak boleh ada lagi sebuah kekerasan atau
bagaimana seperti yang sempat terjadi tahun lalu.
Sehabis apel pembukaan persami selesai kami mulai melaksanakan agenda kami
yaitu pencarian jejak/jelajah, saya ditempatkan di pos dasa dharma, sebelum mereka diberangkatkan menuju
pos berikutnya, mereka diberi
pertanyaan tentang semua yang berkenaan dengan dasa dharma. Baik arti, contoh
dan lain sebagainya. Sudah ada satu dua tim yang sudah
menyelesaikan tugas, kami pun dewan penggalang bergegas menuju pos masing-masing. Lama kami
menunggu adek-adek. Saya pun berinisiatif menunggu mereka di gang tempat pos kami
berada
takutnya mereka salah jalan atau tak melihat tanda panah yang menunjukkan
tempat pos kami berada, untung tidak ada anak yang salah jalan, tak lama kemudian muncul
seregu yang akan memasuki pos dasa
dharma, saya pun bergegas ke dalam pos tersebut,
“Lapor kami dari regu teratai siap melaksanakan tugas” kata pemimpin
regu
“Laksanakan”. ucapku.
Sembari menunggu saya tetap mengamati anak-anak regu tersebut, tak
lama kemudian datang regu-regu yang lain
“Lapor kami dari regu kancil siap melaksanakan tugas” kata pemimpin regu
“Laksanakan”.
Akhirnya regu yang pertama telah menyelesikan tugas.
Kemudian kami pun bergegas menuju best camp yang kebetulan bertempat
tidak jauh dari pos kami, ya memang sekolah kami selalu meyelenggarakan persami di halaman SMP supaya
tidak terlalu jauh dengan orangtua para siswa siswi baru tersebut. Tak lama kemudian
akhirnya kamipun sampai di best camp, suara anak-anak baru sudah terdengar dari kejauhan. Setelah sampai dibest camp, kami pun
melaksanakan sholat ashar dan istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelah.
dan setelah itu kamipun beranjak untuk memasuki acara masak-masak, saat mau
makan malam bukan lewat catring, melainkan masak sendiri dan itu juga merupakan
lomba, masakan tersebut dinilai, baik dari rasa, cara membuat dan utamanya
yaitu kekompakan. Saat masakan itu sudah siap, kami bergegas mandi, mandipun
juga sangat butuh perjuangan, kami harus mencari tempat mandi dirumah
warga-warga, antri, cepet-cepetan dan lain sebagainya. Setelah mandi selesai
kami melaksanakan sholat magrib, walau kami sedang berkemah, sholat 5 waktu
mestilah tetap wajib. Setelah selesai sholat dan tubuh terasa
segar kembali, adek-adek masih kami beri waktu untuk istirahat
sejenak, dan setelah waktu istiratan berakhir inilah waktu dimana kami (semua
anggota camping) mempersiapkan makanan yang telah dimasak tadi sore untuk makan
malam dan makan bersama-sama. sembari penilaian kami semua pun juga menghias
tempat dimana makanan itu dihidangkan, disinilah kami dapat merasakan sebuah
kebersamaan yang luar biasa. Kakak-kakak Dewan Penggalang
yang lain melakukan penilaian terhadap makanan adek-adek tersebut. Para Pembaca
yang budiman perlu diketahui kami anak-anak pramuka mempunyai nama panggilan “Kakak” karena sebagai panggilan biar menghormati walaupun ada jarak umur
yang jauh dan kami anak pramuka mempunyai semangat juang yang tinggi.
Priitt prittt prittt kalau gak salah begitulah panggilan bagi adek-adek untuk menuju ke
tempat api unggun berada, Sebelum acara dimulai pembawa acara menyampaikan
susunan acarannya yang pertama Doa sebelum api dinyalakan, menyalakan api
unggun dengan membacakan dasa dharma pramuka, sambutan dari Kakak Pembina, Dan
Pentas seni. Acara demi acara sudah selesai saatnya acara inti yaitu pentas
seni, dengan kelucuan kakak pembawa acara adik-adik pun pada senang dan gembira. Satu demi satu
dari regu masing masing menampilkan hasil kreasinnya, tak lama kemudian acara
telah selesai saatnya istirahat. Tapi
sebelum istirahat kami sebagai dewan penggalang melakukan “renungan malam”.
satu demi satu temanku mulai meneteskan air mata membayangkan sesuatu yang
telah direndungkan, pembinalah yang memimpin renungan tersebut. “bayangkan,
bagaimana kedua orang tua kalian berkerja mati-matian untuk mencukupi kebutuhan
kalian, sedangkan kalian terkadang sama sekali tidak memikirkan bagaimana orang
tua kalian berkerja, kalian hanya bermain-main” begitulah kira-kira. Air mata
demi air mata mulai membanjiri pipi. Ada yang sampai berteriak meminta maaf dan
ada pula yang tidak kuat melanjutkan renungan tersebut dan meninggalkan
renungan tersebut tetapi juga masih banyak yang tetap melanjutkannya.
Matahari sudah berganti Bulan, Bulan sudah berganti
bintang, angin malam sudah menerpa kulit tipis kami. Tak terasa pukul menunjukkan
pukul 01.00 WIB. Kakak dewan yang
meninggalkan renungan malam tadi mulai menyisir ruang
kelas adek-adek
kelas tujuh, ternyata banyak yang belum pada tidur ada yang bercandaan ada yang
lagi main musik dan lain lain.
“Woey pada
tidur, simpan energymu buat besok pagi”
bentakku.
anak-anak “Iya kak”.
Baru ditinggal beberapa langkah mereka bersuara
lagi, lalu saya pun menyuruh teman saya,
“kak tari sana gantian kamu yang menenangkan
mereka”.
“oke kak sinta” jawabnya.
kakak dewan yang bernama tari tersebut, bukanlah orang
yang sepertiku, dia menyuruh adek tidur dengan kata-kata yang lembut, halus dan
penuh kesabaran. hingga adek-adek pun lebih mendengakannya dan mereka segera
tidur.
Burung pipit mulai berkicau di pohon beringin depan taman baca itu
tandannya pagi sudah datang dan semua anak sudah Berbaris rapi di halaman
sekolah untuk melakukan jalan sehat
dan senam pagi, adek-adek kelas pun berantusias untuk melaksanakan
jalan pagi yang sangat segar. Tak lama kemudian kami sudah sampai lagi ke bumi
perkemahan, acara selanjutnya adalah senam bagi dan dilanjutkan dengan makan
pagi di halaman belakang. Semua acara sudah selesai tinggal bersih bersih
halaman Bumi perkemahan, semua sudah rapi seperti semula tinggal penutupan
acara persami
sebelum apel penutupan di laksanakan.
Prittt prrriiittt pprrriiit kurang lebih begitu bunyi pluit sang
pratama yang sedang mengumpulkan pasukan peserta persami, dengan sikap peserta
persami sudah
siap memasuki halaman apel penutupan persami, tak lama kemudian Pembina apel sudah berdiri
gagah di hadapan para peserta perjumsa dengan membawakan motivasi bagi adek-adek peserta persami supaya Siap, Mandiri dan berprestasi kala menuju sekolah yang
berstandar Nasional.
By: Sinta Ningsih


Komentar