You're Good Twins | Ita Arke
“You're Good Twins”
Indahnya suasana pagi hari ini. Udara
berhembus dengan sejuk disetiap langkah kakiku. Ini adalah hari yang
kunanti-nanti dari beberapa tahun lalu. Hari ini aku akan masuk ke sekolah
baruku.
Aku bisa melihat dengan jelas, mereka
menatapku dengan tatapan tak percaya. Kulirik sekelilingku. Para siswa-siswi
berbicara dan samar-samar bisa kudengar apa yang mereka bicarakan....
“Hebaaaaaaattt, lihat dia!!! Mereka
benar-benar sama persis, sayang cara berpakaiannya tidak seperti Arka yang
terlihat lebih rapi” kata seorang siswa perempuan yang lewat di depanku.
Aku tertawa dalam hati. Tentu saja aku
dan dia sama persis. Tak ada perbedaan yang mencolok antara aku dan Arka, Prima
Arka Julianto adalah saudara kembarku yang saat ini berada di Jakarta. Arka
memang lebih pintar daripada aku, maka dari itu dia mendapat beasiswa untuk
melakukan pertukaran pelajar antara Indonesia-China. Namaku Yukaris Arke Luhan,
dan hari ini aku resmi bersekolah disini, tempat dimana kakak kembarku, Arka
bersekolah. Kami adalah kembar identik tak ada yang berbeda pada wajah kami,
selain sifat dan otak kami. Arka adalah anak yang pendiam, pintar, dan dia
memiliki banyak sekali bakat pada dirinya. Dia pintar memainkan alat music
seperti gitar dan bass, pintar di segala bidang pelajaran akademik. Dia selalu
saja menjadi peringkat satu sejak dulu kami SD, selain itu dia anak yang sopan
dan anak kebanggaan orangtuaku.
Dan aku? Aku hanyalah anak yang nakal,
yang tidak memiliku bakat selain berkelahi dan bermain gitar, nilai pelajaranku
selalu jelek dan orangtuaku selalu menganggapku bodoh ckkk, menyedihkan
bukan!!!
Itu sangat benar aku adalah anak yang
sangat menyedihkan bahkan orangtuaku sejak dulu telah memiliki rencana untuk
menyekolahkanku di Pondok, kenapa? Karena mereka pusing akan tingkahku yang
sejak dulu seperti berandalan. Maka dari itu mereka menyekolahkanku disana agar
sifat jelekku ini berubah. Tapi setelah beberapa bulan aku sekolah disana aku
tidak betah karena ustad-ustad disana selalu memerintah seenaknya. Setiap jam 03.00
kami dibangunkan untuk sholat tahajud, setelah itu tadarus menunggu sholat
subuh lalu kami bersekolah layaknya sekolah biasa. Sepulangnya kami kembali ke
asrama kami selalu disibukan dengan kegiatan asrama. Aku sungguh bosan akan
semua itu, apalagi aku tidak bisa keluar hanya sekedar bermain-main. Disana aku
seperti mayat hidup tidak punya gairah hidup karena makanan disana setiap hari
sama saja.
Akhirnya setelah Ibu mengabariku lewat
telephone kalau Kak Arka mendapat kesempatan untuk mengikuti pertukaran
pelajar. Ibu mensetujuiku untuk pindah sekolah, dan lihat sekarang ini aku
berjalan di koridor SMA N 1 Widodaren tempat kak Arka sekolah.
#FLASHBACK.
Arka menendang bola kearah Arke yang
sedang berada di posisi siap menangkap bola. Mereka bermain bola di lapangan
dekat rumah mereka. Terlihat saudara kembar itu sedang menikmati permainanya.
“WHOAAAAAAHHHH GOAAAALLL” teriak Arka
dengan senangnya. Ia berputar-putar menirukan gaya Wayne Rooney, pemain
Manchester United, klub sepak bola favoritnya. Arka menjatuhkan tubuhnya ke
rerumputan hijau. Arke menambil bola lalu duduk disebelah kembaranya itu.
“kapan kita bisa seperti ini lagi kak?”
“Entahlah bro...” Arka menghembuskan
nafas dan memandang lurus ke langit yang cerah. Ia tersenyum dan memandangi
Arke yang nampak kesal. Sepertinya ia tidak terima bahwa Arka kakak
tersayangnya akan pergi jauh.
“Kenapa harus ke Jakarta?” tanya Arke
galau.
“Kenapa? Apa kau cemburu tidak bisa
pergi ke jakarta?”
“sama sekali tidak kak, tapi....”
“ahh iyaaa aku tahu kau kan masih kangen
dan ingin bermain dengan kakak apalagi
kau kan baru pulang ke rumah setelah memutuskan urusan kepindahanmu itu”
“Arghhh kau ini” Arke ingin menjitak
kepala Arka tapi sayang kakaknya itu segera berguling menjauhi Arke.
“Kau yakin bisa bersekolah disana,
sedangkan kau sendirian disana?”
“Pilihanku sudah mantap”
Di kamar Arka sedang packing. Ia melipat
baju-bajunya dengan rapi. Ia juga membawa jersey Mancheser United kesayanganya
yang tak pernah ia tinggalkan. Ia juga bercita-cita ingin menjadi seorang
pemain bola.
“Yesssss selesai juga” Arka mendesah
pelan. Tak sengaja ia melihat fotonya bersama Arke yang menggunakan pakaian
sama. Rambut mereka memiliki warna yang berbeda. Arka berwarna Coklat dan Arke
berwarna Orange. itu adalah perintah ibunya agar mereka mudah dibedakan selain
karena poni mereka yang berbeda tempat. Jika Arka poninya melengkung kearah
kanan maka arke sebaliknya kearah kiri dan tinggi mereka yang berbeda Arka
lebih pendek dibandingkan Arke.
“Arka apa kau suda selesai beres-beres?”
tanya Ibu.
“Sudah bu,”
“Ahh ibu menangis lagi?”
“hanya sedikit” kata ibu sambil
menggeleng.
“belajar yang tekun ya, ini adalah
kesempatan yang tidak boleh disia-siakan”
“ahh iya Bu,” Arka memeluk ibunya yang
terlihat ingin menangis lagi.
“jangan menangis lagi Bu, kan ada Arke
yang akan menjaga Ibu dan Ayah”
“Arke sering menghiraukan Ibu, tidak
sepertimu yang selalu patuh pada ibu. Makanya ibu takut kesepian,” ujar ibu
sambil tersenyum.
Setelah itu ibu pergi keluar kamar Arka
dan Arka segera mencuci tangan dan segera peri ke tempat tidur agar besok ia
tidak bangun kesiangan dihari berangkatnya ke Jakarta.
“Woooyyy... Haaann ayo cepat bangun,
katanya ingin mengantar kakak ke bandara?” ucap Arka sambil
mengguncang-guncangkan tubuh Arke yang tidak bergerak sama sekali.
Karena tida mendapat reaksi apa-apa dari
Arke, akhirnya Arke pergi keluar kamar dan kembali sambil membawa seember air
dari kamar mandi. Mungkin ini adalah cara yng tepat untuk membangunka seorang
Kerbau yang tertidur.
“Hyaaaaa... Luhaaan ayo cepat bangun”
kata arka sambil berulang-ulang menoyor-noyor kepala adiknya itu. Ia lebih suka
memanggilnya Luhan karena namanya tidak sama deganya, meskipun Arke juga
berbeda, tapi ia menganggap sama meskipun berbeda satu huruf.
“
apa ingin kakak siram dengan air kamar mandi hah.. jika kau tidak bangun kakak
akan siram pakek air saaatu.... duuuua... Tiiii~” ucapan Arka berhenti karena
Arka tiba-tiba bangun dari tidurnya dan segera berlari ke kamar mandi.
“Hyaaa.. kakak jahat ingin menyiramku
dengan air... Ibuuuu.... kakak jahat” adunya ke Ibu sambil berlari.
“Ckkkk.. Sungguh manja sekali adik
kecilku ini.. keci-kecil sudah berani mengadu yaaa”
“Biariiiiiin.. Weeek.... Weeekk..”
Keluarga bahagia itu berangkat ke
bandara untuk mengantar keberankatan anak kesayangan mereka, Arka ke Jakarta.
Terlihat mereka tersenyum bahagia, terkecuali Arke yang masih tidak rela akan
keberangkatan Arka yang mendadak ini.
#FLASHBACKK OFF
Kuingat hari terakhirku bersama kakak.
Aku sebenarnya sangat iri padanya mengapa selalu dia yang mendapat
keberuntungan. Orangtuaku bahkan membeda-bedakanya denganku. Aku selalu saja
diceramahi ayahku dan kata-katanya selalu sama “kamu tuh harusnya mencontoh
kakakmu, dia itu masih kecil saja sudah rajin, kalau kamu begini terus mau jadi
apa kamu besarnya” dia... diaa.. dan selalu diaaa yang selalu diatasku.
Meskipun begitu aku tidak pernah membenci kakaku.
Aku berkeliling mencari dimana letak
kelasku. Lama kucari-cari akhirnya kuliat kelas di ujung utara di depan tempat
parkiran yang tertulis di atasnya KELAS XA. Setelah ketemu akupun masuk ke
kelas, ku lihat sudah ada gurunya dan semua murid di kelas itu memandangiku
dengan tatapan mengintimidasi.
“Heyyy, anak baru apakah kamu kembaranya
Arka itu?” tanya seorang siswa yang duduk di bangku belakang.
“mengapa wajah mereka sama persis tidak
ada bedanya?” tambahnya.
“apa kau adiknya yang pindah dari
pondok?” tanyanya bertubi-tubi sudah tahu aku kembaranya otomatis wajah kami
sama persis.
“tenang anak-anak.. silahkan perkenalkan
namamu?” perintah bu Guru.
“Assalamualaikum.wr.wb.. semua
perkenalkan nama saya Yukaris Arke Luhan, saya adalah kembaranya kak Arka
seperti yang kalian tahu. Saya pindah dari pondok” ucapku.
“meskipun wajah mereka sama, tapi
penampilanya sungguh beda sekali dengan Arka yang selalu rapi, sopan, dan
ramah. Bahkan wajahnya saja datar seperti tembok” bisik seorang siswa yang
masih bisa kudengar”
“kamu Arke duduk di bangku Arka yang
dulu, di bangku kosong itu di samping jendela” perintah Guru itu.
Setelah
pulang sekolah aku pun berniat untuk mengunjungi teman-teman gangsterku
dulu. Ku langkahkan kaki-kakiku menuju trotoar tempat kami dulu nongkrong.
Ternyata mereka masih nongkrong di tempat dulu.
“Woyy... guys I Back...”
“Whoooaa.. Arke kau beneran kembali.
Bagaimana kabarmu bray?”
“Kapan kau pulang?”
“Ku dengar kakakmu dapat kesempatan
untuk pertukaran pelajar?”
“Setelah beberapa hari aku keluar dari
pondok, aku benar-benar merasa sehat, bebas dari stess. Woooy aku kangen kalian
bray..” ujarku sambil memeluk mereka. Aku sungguh kangen dengan masa-masa ini,
meskipun aku tidak bertemu mereka baru beberapa bulan lalu.
#One Years Later
Darah menetesi seragam putih Arke,
laki-laki itu terenyak di pinggiran gang yang gelap, nafas yang tak beraturan,
tanganya masih memegang kayu tumpul yang berlumuran dengan darah, laki-laki
dengan wajah lumayan tampan, usianya baru menginjak 15 tahun, dengan rambut
pirang kecoklatan dan wajah jawanya.
Arke menatap lawannya yang tengah
terkapar tak berdaya. Tujuh orang yang sudah ia lawan sendirian, Arke berusaha
bangun dengan keadaan kaki yang terpincang-pincang. Handphone yang bergetar di
kantong celananya ia segera mengeluarkanya dan melihat layar hp yang retak jadi
ia tidak tahu siapa yang menelpon, ia pun mengantonginya lagi.
Bunyi derap langkah kaki membuatnya
langsung siap siaga, ia menatap lurus ke depan dan derap kaki itu makin
mendekat. Lima orang datang menatap Arke dengan kagum. Pertolongan
teman-temannya selalu saja datang terlambat setelah ia menghajar lawanya.
“Braaay, lu lawan mereka sendirian lagi,
sorry kita selalu datang terlamat” ujar Ravi, Arke tak menghiraukan temanya dan
berjalan melewati temanya.
“Braaaay mau kemana? Nanti kalau lu
pulang berdarah-darah gitu bapak lu pasti marah” panggil Novan, Arke berbalik
dan menatap teman-temanya dengan wajah datarnya.
“Lain waktu lu semua bisa gak datang
lebih cepat!! Jangan dandan dulu. Kalau lu pada lebih cepat pasti gua gak akan
babak belur begini” ucap Arke yang terdengan menakutkan, yang lain langsung
mengangguk hormat pada pemimpin mereka.
“Gua pulang dulu” ucap Arke lalu
berbalik dan berjalan menjauh.
Arke mendengar suara hpnya lagi”Yes I’m a bad boy, so i like bad girl illu
wabwa baby urin jal doel geol~~~” suara lagu korea yang terdengar dari
hpnya, ia memang menyukai beberapa band korea yang terkenal dengan keahlian
bermain musicnya, seperti FT-ISLAND. Ia lalu mengangkat hpnya.
“Woooy, Luhaaaan” suara kembaranya
menyahut.
“aku pulang” balas Arke.
“Aku kira kau ingkar janji” tambahnya”
“Aku mana pernah ingkar janji”
“Hahahaha okidokey my lovely brother”
“Bisa gak pakek lovely brother boleh
gak?” tawar Arke dengan nyengir.
“Gak bisa say, udah paket lengkap,
jangan pakek nawar, nggak bisa kurang lagi bang” balas kakaknya.
“Kak, cocok kalau jadi tukang sayuran di
pasar. Aku baru jalan, 15 menit lagi sampe rumah” Arke berdiri menunggu bis
lewat.
“aku tunggu say” Arka langsung mematikan
sambungan telephonenya.
“hahaha, say? Geli aku punya saudara
kembar kayak gitu” Batin Arke sambil berjalan.
Sesampainya di depan rumah. Arke
langsung memanjat gerbang dan melompat masuk ke kamarnya lalu mengetuk
pintunya, Arka membuka pintu dan tertawa melihat wajah adik kesayanganya yang
sudah tidak berbentuk. Arke masuk kamar dan mengacuhkan wajah Arka yang
memasang ekspresi lebay.
“Kau tawuran lagi? Sama anak mana?” tanya
Arka sambil mengambil posisi tidur di tempat tidur..
“aku yang di tawur?” balas Arka kesal,
Arka langsung bangun dan mengambil obat betadine di meja dan menyuruh Arke
mengobati lukanya.
“kau bisa nggak berhenti berkelahi? Itu
sama sekali tidak ada gunannya, Ibu sama Bapak pasti tidak suka. Jangan
berteman sama preman-preman itu” nasihat Arka pada adiknya.
“tidaaaaaak bisa, mereka sudah jadi
bagian hidupku” jawab Arke lalu merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuknya.
Arke menatap saudara kembarnya sedih, mereka memang terlahir kembar tapi sifat
mereka sangat bereda, Arke yang cenderung keras kepala, pendiam, dingin dan
pemberontak, semakin dia dilarang maka semakin tinggi keinginanya untuk
melakukanya, dan kakanya Arka yang ceria, murah senyum, ramah dan sopan. Anak
kebanggaan orang tuannya, dan ayahnya selalu bilang “Contoh Arka!!!” kata-kata
ayahnya yang selalu membuatnya kadang-kadang membenci saudara kembarnya itu.
Ayahnya selalu membenci apa yang ia
lakukan sedangkan terhadap Arka selalu berbanding terbalik, selalu memujinya
seperti seorang raja. Dia hanya bisa tersenyum pahit saat ayahnya mengatakan
“kamu tidak akan bisa seperti Arka yang mempunyai sifat sempurna” dan saat
ayahnya terkena demam tinggi dia yang menggendong ayahnya karena Arka dan
Ibunya pergi kerumah neneknya, paginya saat ayahnya sudah sadar. Ayahnya
berkata “Terimakasih nak, kamu memang yang terbaik” Ayah mengira yang
menggendongnya itu Arka padahal Arke, saat Arka ingin mengatakan bahwa yang
melakukanya adalah Arke, tapi Arke selalu menggelengkan kepalanya. Biarkan saja
Arka yang menjadi anak kesayangan ayahnya. Arka sudah bahagia dengan keluarga
mereka yang lengkap.
Pagi hari yang cerah, sinar yang silau
membuatnya bangun dari tidur cantiknya. Dia pun segera bangun dan turun ke
bawah untuk sarapan. Ibu menatapnya dengan tatapan kaget. Arke menatap ayah
dengan wajah takut, pasti akan terjadi keributan lagi di pagi hari ini.
“Kenapa lgi sama wajahmu? Apa kamu habis
berantem hah?” bentak ayah.
“Bukan urusan Ayah” balas Arke ketus
sambil mengambil nasi goreng.
“ Anak berandalan, kamu bisa nggak jadi
anak penurut seperti Arka. Jangan selalu menyusahkan keluarga lebi baik kamu
tidak ada jadi ayah tidak perlu susah-susah mengurus kamu” ucap ayahnya dengan
emosi.
“Bagus” ujar Arke dingin sambil menaruh
mangkuknya lalu bergegas pergi.
“ARKEEE.. jangan pergi sebelum ayah
berhenti bicara!!!, kamu adalah aib di keluarga ini” bentak ayah
“Aku setuju, terimakasih ayah telah
menyadarkanku akan posisiku di keluarga ini” balas Arke lalu berbalik pergi. Ayah
ingin memukulnya tapi tanganya di tahan ibunya.
“Arka bawa Arke pergi ke Dokter”
perintah Ibu.
“Iya Bu” jawab Arka sambil berlalu pergi
menyusul adiknya.
```````````````````````
“aku nggak mau ke dokter”
“aku juga nggak ngajak ke dokter, luka
di kepalamu kan bisa sembuh dalam sehari” kata Arka sambil tertawa.
“ya udah” balas Arke sambil menyebrangi
rel kereta menuju sekolahnya.
“Hey, tau gak ada berita bagus?” tanya
Arka.
“Gak tahu dan gak mau tahu” balasnya
dengan acuh.
“Woooy nanti anterin aku beli bass ya,
minggu besok aku dipanggil untuk audisi, ni audisi yang terakhir, nanti kalau
aku udah jadi musisi terkenal pasti banyak cewek-cewek yang teriakin namaku
ARKAAAAAAA” Arka berteriak histeris seperti anak kecil yang baru dibelikan
permen kapas di pasar malam.
“OMG Hellowww... mana mungkin, kalau
mungkin ya mereka ngejar-ngejar, narik-narik baju dan kau pulang bugil seperti
orang gila gitu” komentar Arke.
“Gilaaa.. tidak kayak gitu juga kali..
mungkin kalau aku jadi artis mungkin aku akan sejajar dengan artis papan atas
seperti Aliando dan Syahrini. belum jadi artis aja udah banyak yang naksir,
apalagi kalau udah jadi artis” ucap Arka dengan PD akutnya
“Ingin beli bass dimana?” tanya Arke.
“Ke Walikukun aja, disana banyak toko
yang jual bass bagus, nanti bisa lihat-lihat sambil mejeng hahaha”
“Jadi kita bolos sekolah nih” tanya
Arke.
“Iya dong.. bisa menghilangkan penat kan
kalau jalan-jalan, aku kan kakanya jadi adik harus nurut sama apa yang dibilang
kakaknya” kata Arka sambil bergaya sok benar sendiri.
“Wahh.. wahh... wahh sesat banget nih,
tapi ya boleh lah sekali-kali gitu” ucap Arke seperti malaikat pencabut nyawa.
“Aku udah bawa baju ganti nih” ujar
Arke.
“Wow... wow... wow.. jadi kau udah niat
dari rumah nih, kau kok keturalan brutal kayak aku” tanya Arke pada Arka.
“Kan adikku ini yang ngajarin kakanya
buat bolos sekolah”
“Sialan, aku gak mungkin kayak gitu,
sejelek-jeleknya aku, aku tidak akan mengajak orang berbuat kejelekan” ceramah
Arke seperti ustad.
Adik kakak kembar itu berjalan dengan
langkah yang cool dengan sekejad mata sudah menjadi pusat perhatian, Arka masuk
ke toko music satu persatu hanya mencoba bass dan gitar sedangkan Arke hanya
berdiri disampingnya sambil memberi komentar saja.
“Ganteng gak kalau begini” tanya Arka.
“Aku bilang jelek berarti aku ngatain
wajahku juga, jadi kakak selalu ganteng” balas Arke.
“Itu baru adik pintar” Arka senang
melihat banyak sekali bass yang bagus-bagus.
“Pak, bas warna biru itu harganya
berapa?” tanya Arka pada pemilik toko, sedangkan Arke hanya melihat gitar berwarna coklat yang
indah, karena kemarin ia sudah mencoba memainkan gitar milik temannya, jadi ia
ingin punya juga. Arke mendekat melihat harganya dan ia kaget melihat harga
yang terpampang jelas Rp.750.000,. wow hanya dengan melihat harganya saja
membuat Arke langsung mundur ke belakang.
“Woooy!!!”
sergap Arka dari belakang Arke.
“Udah dapat” tanya Arke, Arka hanya
menggeleng.
“Kita jalan-jalan dulu saja” ajak Arka,
Arka hanya berdehem lalu berjalan ke luar, Arka melihat gitar yang di lihat Arke
dan melihat harganya.
Seharian jalan-jalan, ke toko buku, ke
toko music, beli es krim sampai makan somay sambil nongkrong di trotoar membuat
mereka lelah dan memutuskan untuk pulang ke rumah.
“Tadi kenapa tidak beli bass?
Dengar-dengar minggu depan audisi? Masuk 10 besar kan, kenapa tidak jadi beli?
Uangnya kurang? Aku tambahin ya, aku ada 200 ribu, mau nggak?” tanya Arke
bertubi-tubi.
“tidak ada yang pas harganya, besok saja
kalau ada yang benar-benar aku suka baru aku beli bassnya, tadi gitarnya benar-benar
bagus” kata Arka.
“Gitar yang mana?” tanya Arke penasaran.
“Gitar yang tadi kau lihat di toko”
jawab Arka singkat.
Setelah berjalan-jalan ke Walikukun
dengan tujuan membeli bass yang akhirnya tidak di dapatkan. Mereka pun berniat
pulang kerumah. Karena hari sudah mulai gelap.
Gubraaakkk!!!! Tas sekolah berat itu
mendarat di kepala Arka dengan sangat pas. Arka kaget, Arke melihat muka
Ayahnya yang menatapnya dengan tatapan yang mematikan, Arke hanya menatapnya
dengan tatapan dingin sedangkan ibunya berusaha menahan ayahnya seperti biasa.
“Pergi kamu dari rumah ini!!! Sekarang
kamu mulai berani mengajak arka untuk membolos ya.. dasar anak kurang ajar,
sudah cukup kamu saja yang tidak berguna jangan bawa-bawa anak kebanggaan ayah”
bentak ayah pada Arke sedangkan Arke hanya diam saja.
“Ayah, hari ini Arka yang salah, tadi
Arka yang mengajak Arke buat membolos, Arka mengajak Arke beli bass di
walikukun” ujar Arka dengan lirih.
“Terus, dimana bassnya??” Ayah menatap
Arka dengan melotot.
“Tidak ada yang bagus, jadi Arka tidak
jadi beli” jawab Arka sambil menunduk takut.
“Sekarang kamu berani bohong sama Ayah
hah!!! Apa Arke yang ngajarin kamu buat berbohong hah!!” teriak ayah.
“CUKUUUUPP.... Aku pergi, ayah memang
selalu berprasangka buruk padaku” kata Arke sambil berteriak.
“CUKUUUPPP Ayah, Arke jangan pergi nak”
ucap Ibu.
“Aku sudah tidak tahan ada disini, Ayah
kira aku bahagia dengan cara Ayah yang selalu membeda-beda kanku dengan kakak,
Aku jadi seperti ini itu adalah kesalahan Ayah, karena Ayah ingin aku pergi.
Sekarang untuk jadi anak yang penurut seperti kakak aku akan patuh akan
perintah Ayah, daripada disini lebih baik aku tidur di jalanan saja”
PLAK..PLAKK...PLAKKK.. Ayah menampar
wajah Arke tanpa henti.
“Ayah menyesal punya anak seperti kamu,
meskipum kalian kembar itu membuat Ayah tahu jika sifat kalian berbeda sekali
dan itu membuat Ayah tidak ingin mempunyai anak seperti kamu”
Arke mengambil tasnya yang berada
dikamar lalu berjalan keluar rumah. Ia berfikir ini adalah jalan yang terbaik
untuknya agar bisa hidup tenang tanpa ocehan Ayahnya setiap hari.
“ARKEEEEE,... Jangan pergi” teriak Ibu.
Arka ingi mengejar Arke, tapi Ayah menahanya.
“ARKEEEEEEEEEEEEE..... Kembali” panggil
Arka dengan menangis tanpa berhenti.
“Biarkan saja anak itu, dia pikir bisa hidup
tanpa ayah.
++++++++++++++++
3 hari sudah Arke meninggalkan rumahnya
dan ia juga tidak datang ke sekolah, setiap pulang sekolah Arka selalu
mencari-cari Arke dan akhirnya ia menemukan Arke. Arke berada si sebuah bengkel
motr dan ia membantu memperbaiki motor-motor,
Arka senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan saudara kembarnya
itu. Arke bangun dan melihat kakaknya berdiri di depanya. Arke hanya memasang
wajah datarnya entah ia senang karena bisa bertemu Arka, tapi bisa juga kaget
melihat saudaranya itu.
“Hyaaaaa, kau kemana saja setiap hari ku
cari-cari ternyata kau ada disini, ayo pulang Ibu selalu melihat fotomu sambil
menangis” tanya Arka sambil memeluk adiknya.
“Tidaaaaaaaaaak” jawab Arke sambil
berusaha melepaskan pelukan kakaknya.
“Kalau gitu, aku boleh ya nginap di
tempatmu malam ini” tanya Arka.
“Mau nginap dimana, aku tidak punya
rumah”
“brother tau aku kan, malas dirumah
orangtua kita selalu ribut tiap hari masalah kau terus bro, bosaaaaaaaan”
“Aku tidur di jalanan loh”
“Terserah, aku ikut aja”
“Okidokey”
“ngomong-ngomong besok tanggal 12 kan,
berarti 3 hari lagi tepat tanggal 15 Juni 2015 kita ulang tahun yang ke 16
dong”
“Memang, aku baru ingat malahan”
“Aku udah siapin kado buat kau, pasti
kau tidak akan memberi aku kado seperti tahun kemaren” Ucap Arka kesal lalu
Arke tertawa.
“Memang benar, itulah gunanya kau
sebagai kembaranku.. hahaha”
“Dasar adik kurang ajar”
“Woooyy, Brooo” seseorang berlari mendekat
ke arah Arke.
“Ada apa Vi” tanya Arke kaget.
“Mereka.. merek.. me.. mereka” jawab
Ravi tergagap.
“mereka kenapa??” tanya Arke kesal.
“Mereka menuju kesini buat balas dendam,
aku sudah memberi tahu yang lain, cepaaak Arrr.. mereka menuju kesini”
“Mereka siapa Kee?balas dendam apa?”
tanya Arka kaget.
“Kau cepat pulang kak” minta Arke pada
kakanya.
“Tidak.. aku tidak mau, aku nemenin kau
disini ”
“Aku bakal bai-baik saja, kakak pulang
sekarang, besok kita bisa bertemu lagi” Arke mendorong Arka agar pergi.
“Bener ya, besok kau audisi harus
datang”
“Iya aku janji, cepat sana pergi” bentak
Arka lalu Arke berlari menjauh. Teman-temannya pun datang kearahnya.
“ada berapa orang Vi” tanya Arke.
“10 orang” balasnya
“teman-teman kita kemana?” tanya-nya
lagi.
“Arkaaaa!!! 6 teman kita pasti datang,
tenang saja kita pasti bisa lawan mereka” ucap ravi dengan tersenyum.
“Okay”
“Arkaaaa!!! Woy kita datang ni, gak
telat kan?” tanya salah satu teman Arka.
“Iyaa, aku acungin jempol deh.. kalian
gak kayak biasanya telat”
“AAAAAAAKKKKKKKKKK!!!” terdengar suara
orang berteriak, Arke kaget karena ia merasa mengenali suara itu, itu adalah
suara kakaknya Arka. Arke pun langsung berlari mendekat ke asal suara Arka.
Dilihatnya kakanya yang sudah tergeletak tak berdaya dengan darah yang mengalir
dari pisau yang ada didadanya, Arka mendapat dua tusukan yang berada diperut
dan 10 preman yang mengelilinginya.
Arke menatap kakanya dengan tidak
percaya, ia bahkan tidak ingin dengan apa yang apa ia lihat sekarang, Arka
menatapya dengan air mata yang menetesi wajahnya.
“ARGHHHHHHHHHHHHHH!!!!!” Arke yang sudah
emosi dan hilang kendalinya, ia menghajar 10 orang yang mencelakai Arka.
Setelahnya ia langsung berlari menuju Arka yang masih bisa melihatnya.
“Woooyy, panggil ambulance!!!” teriak
Arke pada teman-temanya.
“tapi kalau kita panggil ambulance
polisi bakal datang dan kita pasti dipenjara” jawab temanya.
“BODOH MAU AKU BUNUH HAH.. INI HIDUP
MATI KAKAKKU” bentak Arke dengan emosi.
“Iyaa, maaf kita panggil ambulance” ucap
mereka dengan takut.
“Kakak bangun.. kakak tidak boleh
pergi.. kakak jangan sejahat ini ninggalin aku.. Kak Arkaaaa....” dengan
perlahan-lahan Arka mulai membuka matanya.
“Aku tidak apa-apa, ” ucap Arka dengan
lirih.
“Kakak gak boleh ninggalin Arke sendiri,
kakak jangan pergiiiiiiiiiii... kakak jangan kemana-mana” tangis Arke dengan
tersedu-sedu.
“kakak gak akan pergi, kita satu dan
tidak akan terpisahkan, walau aku sudah tidak ada tapi aku masih ada dihatimu”
kata Arka sambil menyentuh dada Arke.
“kau tidak boleh menangis, kau kan
laki-laki dan laki-laki itu tidak boleh menangis jangan seperti anak perempuan,
jadilah seorang laki-laki pemimpin, kakak harap setelah kakak pergi kamu akan
bisa berubah, jangan berkelahi dan jangan melanggar apa perintah ayah, jadilah
anak yang penurut” nasihat Arka pada Arke.
“kalau kakak tidak bisa datang, kau
harus bisa menggantikan kakak buat datang, itu demi kakak” kata Arka sambil
mengambil kertas dan memberikanya pada Arke.
“Woooy..
ambulancenya mana?” tanya Arke pada teman-temanya tapi teman-temannya sudah
pergi meninggalkanya.
“Berengsek..
mereka semua”
“Arke
dengerin kakak” pinta Arka dengan nafas yang tidak teratur.
“Arke
adik yang kakak sayang, kau adalah saudara terbaik yang aku punya, apapun yang
sudah dibilang ayah itu semua tidak benar. Kau bisa jadi orang yang lebih dari
kakak kalau kau mau, kau bisa menggantikan kakak untuk menjaga ayah dan ibu,
kau bisa hidup tanpa aku yang selalu ada dan tidak ada yang namanya berantem
dan balas dendam lagi mulai sekarang, ingat pesan kakak” ucap Arka sambil
menangis.
“Kakak
ngomong apa, itu semua tidak akan terjadi” umpat Arke langsung menggendong Arka
menuju rumasakit, darah yang mengalir membasahi semua baju Arke.
“Makasih
adikku” kata-kata terakhir yang keluar dari bibir Arka setelahnya matanya
tertutup. Sesampainya di rumasakit Arke terus saja memanggil Arka.
“Arkaaaaaaa!!!!!!
Arka bangun.. bangun kak jangan ninggalin aku” perawat pun melarang Arke untuk
masuk ke dalam ruangan. Arke terus saja menangis histeris sambil memanggil nama
Arka berharap ia akan bangun lagi. Setelah beberapa menit akhirnya Arke pingsan
kesedihanya melampaui apapun yang sangat mendalam, gelap dan pengap seperti
tidak ada lagi yang bisa ia raih untuk beriri.
SKIP
Arke terbangun dari tidurnya, cahaya
matahari yang tertutup mendung seakan ikut menangisi kepergian Arka. Arke yang
melihat Ayah dan Ibunya duduk di sofa, langsung bangun dari tidurnya.
“Jangan bangun dulu nak, kamu masih
butuh istirahat” pinta Ayah, Arke pn langsung tersadar tentang kejadian
semalam.
“Ibu.. Ayah.. dimana kak Arka?” tanya
Arke dengan menangis.
“Ibu jawab, dimana kakak?”
“kita sudah melakukan pemakamannya tadi
pagi” ucap Ayah sambil membendung air matanya yang akan keluar. Setelah tahu
Arka pun langsung berdiri dan berlari. Arke menembus rinti-rintik hujan yang
membasahi bumi.
“Sayang berhenti!!!” panggil Ibu. Tapi
Arke mengabaikanya dan langsung mengambil motor dan melaju ke tempat
pemakamanya Arka. Ayahnya pun mengikuti Arke.
Arke sangat tidak percaya akan hal ini,
ia sungguh akan di dunia ini sendiri tanpa seorang kakak yang selama ini sudah
bersamanya, mereka dulu kemana-mana selalu bersama, pergi membeli es krim,
cilok bahkan tidur pun tak terpisah. Tapi setelah sampai di pemakamanya Arka ia
melihat makam yang basih basah dan batu nisan yang tertulis nama Arka disitu,
bahkan sekarang ia tidak bisa melihat wajah kakaknya lagi.
“Kamu pingsan kemarin di rumasakit” kata
Ayah.
“Ayah keluarkan kakak dari situ, kakak
sudah janji tidak akan meniggalkan aku. Kakak bohong kenapa kakak sekarang ada
disitu.. kakak jangan pergi aku mohon Ayah keluarkan kakak dari situ kasihan
kakak” ucap Arke.
“ARKE CUKUP!!! KAMU KIRA AYAH TIDAK
SEDIH HAH!! Cukup nak sekarang ayo pulang.. Arka sudah meninggal sekarang
terima ya nak.
“Tidaaaak, Ayah tidak boleh berbicara
seperti itu, pokoknya kakak nanti bakal bersama kita lagi” isak tangis Arke
sambil merauk tanah. Setelahnya Ayah memukul Arke dengan kayu sampai pingsan.
SKIP
Arke tersadar perlahan dengan mata yang
membuka lalu menatap sekitarnya, ia berada di kamarnya. Arke bangun dan
mengambil posisi duduk, ia melihat jersey manchester united milik Arka yang
masih tergantung. Arke kembali menangis tiba-tiba ia melihat sesuatu di samping
tempat tidurnya lalu membukanya. Ternyata isi bungkusan itu adalah gitar coklat
yang ia inginkan. Ia melihat selembar note yang ada di dalamnya dan membacanya.
Happy
Birthday untuk Arke dan Arka pastinya hahaha... aku yakin kalau kau tidak bawa
kado buat aku, tapi inilah gunanya aku ada disini, jaga gitar ini baik-baik ya
soalnya harganya mahal sekali. Aku mau lihat seorang Arke cowok terganteng di
sekolahan bisa memainkan ini dengan baik dan fantastic, meskipun kau selalu
dimarahin sama orangtua kita tapi aku yakin kau bisa membuat orangtua kita
bangga akan adanya kau disini dan aku selalu bangga punya saudara kau Arke,
semoga di pertambahan umur kita yang ke 16 ini, kita bisa sama-sama
membahagiakan Ibu dan Ayah, pesan aku untuk ulangtahun kita tahun depan, kau
bisa berubah menjadi anak yang penurut jangan suka membantah perintah Ayah.
Kakak sayang Arke. J
Arke meremas note dari Arka dengan isak
tangis, air mata tak henti-hentinya keluar dari kelopak matanya. Air mata
menetesi gitar penberian Arka.
“Kau jahat Arka, kenapa ninggalin aku
sendiri dihari ulang tahun kita” Arke pun melihat kalender, ia melihat tanggal
yang dibulati Arka yang ditulis “AUDISI TERAKHIR” Arke langsung bangun dan ia
mengambil nomor audisi yang ada di dalam kantongnya.
Arke mengambil gitarnya dan berlari
keluar menuju tempat audisi, Arke menaiki bus dan turun di sebuah tempat
audisi. Arke melangkah dengan yakin dan berkata dalam hati “UNTUK ARKA AKU PASTI
BISA” setelahnya ia masuk gedung dan mempertunjukan penampilanya.
BY : ITA ARKE KRISTANTI / KAI KKAMJONG ALBINO.
Komentar